Ngawen (MIN 1 Gunungkidul) --- Siswa kelas 3A MIN 1 Gunungkidul mengikuti pembelajaran Fikih dengan metode yang menantang nalar dan keberanian berpendapat pada Selasa (13/1/2026) siang. Menggunakan model Problem Based Learning (PBL), para siswa diajak untuk membedah fenomena sosial "Salat Tarawih Kilat" yang sering menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat.
Dalam kegiatan ini, siswa dibagi ke dalam empat kelompok diskusi untuk menanggapi narasi tarawih kilat tersebut. Setiap kelompok diminta untuk mendiskusikan posisi mereka, baik setuju maupun tidak setuju, dengan menyertakan alasan yang logis. Fokus utama dalam pembelajaran ini bukan pada penilaian benar atau salahnya pilihan siswa, melainkan pada keberanian mereka dalam mengemukakan pendapat di depan umum.
Setiap argumen yang diberikan oleh siswa harus didasarkan pada rujukan atau dasar yang kuat, seperti keterkaitannya dengan rukun salat maupun aspek kesehatan dan kekhusyukan. Melalui model PBL ini, guru berperan sebagai fasilitator yang mengarahkan jalannya diskusi agar tetap kondusif dan saling menghargai, meskipun terjadi perbedaan pandangan antar-kelompok.
Metode pembelajaran ini bertujuan untuk melatih kemampuan berpikir kritis siswa sejak dini. Dengan menganalisis masalah yang nyata terjadi, siswa tidak hanya belajar teori fikih secara tekstual, tetapi juga belajar bagaimana cara mempertahankan argumen secara sistematis dan santun. Hal ini selaras dengan upaya madrasah dalam membentuk karakter peserta didik yang cerdas dan komunikatif.
Kegiatan ditutup dengan sesi presentasi di mana setiap kelompok memaparkan hasil diskusinya. Melalui praktik ini, MIN 1 Gunungkidul terus berkomitmen menghadirkan suasana kelas yang dinamis dan demokratis, sehingga siswa merasa percaya diri untuk mengeksplorasi pemikiran mereka dalam koridor ilmu agama yang luas.
Posting Komentar